GassakIndonesia – Click( Gunungkidul) Menjelang pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kabupaten Gunungkidul, suhu politik internal partai berlambang pohon beringin tersebut mulai menghangat. Berbagai manuver politik yang berkembang memunculkan kekhawatiran akan terjadinya konflik kepentingan hingga ancaman perpecahan di tubuh partai.
Beredar kabar bahwa Musda Golkar Gunungkidul akan dilaksanakan pada bulan November ini. Namun, dinamika menjelang agenda tersebut mulai menjadi perhatian para simpatisan dan kader partai.
Sejumlah kalangan menilai, persaingan menjelang Musda seharusnya menjadi momentum memperkuat konsolidasi organisasi, bukan justru menjadi ajang perebutan kepentingan kelompok maupun ambisi politik segelintir elite.
Keresahan juga muncul terkait dugaan adanya manuver yang dinilai tidak sehat dan berpotensi bertentangan dengan aturan organisasi partai. Jika tidak dikelola secara dewasa, situasi tersebut dikhawatirkan dapat memicu konflik internal berkepanjangan.
Pengamat publik sekaligus penasihat Golkar Gunungkidul, Ratno Pintoyo, mengingatkan agar seluruh kader dan elite partai mampu mengedepankan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Menurut Ratno, konflik kepentingan sangat mungkin terjadi apabila para elite tidak menunjukkan kedewasaan dalam berpolitik.
“Kalau ego sektoral tidak bisa dihindari, saya yakin Golkar Gunungkidul bisa terbelah. Karena itu, mari kita kedepankan kepentingan organisasi agar Golkar semakin maju dan berkembang,” tegas Ratno.
Ia juga mengingatkan agar elite partai tidak mengabaikan aspirasi kader di tingkat bawah.
Menurutnya, suara akar rumput harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan arah dan masa depan kepemimpinan Golkar
“Jangan sampai elite politik tidak mau mendengarkan suara arus bawah. Apa yang diinginkan kader paling bawah itulah yang harus diperhatikan. Jangan hanya mendengarkan suara kekuasaan, tetapi dengarkan suara rakyat,” ujarnya.
Ratno menegaskan, segala bentuk manuver yang tidak sehat dan berpotensi merusak soliditas organisasi sebaiknya ditinggalkan.
“Manuver-manuver yang sekiranya tidak sehat untuk organisasi dan cenderung merusak partai harus kita buang jauh-jauh. Mari kita jaga kebersamaan demi kemajuan Golkar Gunungkidul,” tambahnya.
Musda sejatinya merupakan forum tertinggi di tingkat kabupaten untuk menentukan arah kebijakan sekaligus memilih kepemimpinan baru partai.
Karena itu, proses demokrasi internal harus berjalan sesuai mekanisme dan aturan organisasi. Jangan sampai ambisi politik justru mengorbankan persatuan partai yang selama ini dibangun.
Kini publik menanti, apakah Musda Golkar Gunungkidul benar-benar menjadi momentum konsolidasi dan pembaruan organisasi, atau justru menjadi panggung pertarungan kepentingan elite?
Satu hal yang perlu diingat: Golkar bukan milik segelintir elite, melainkan organisasi politik yang memiliki kader, simpatisan, dan basis dukungan masyarakat.
(Anton)





