GassakIndonesia- click( Jakarta) 29Agustus 2026— Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) bersama gabungan elemen gerakan sipil dan Komunitas Ojek Online (Ojol) Resmi Jabodetabek, mengecam keras aksi provokasi dan penyebaran fitnah yang dilakukan oleh dua figur publik asal Sumatera Utara, Ferdinand Hutahaean dan Melva Maria Rosa Pardede. Keduanya diduga kuat berkolaborasi dalam narasi jahat untuk mendemoralisasi perjuangan rakyat dan menggagalkan komitmen pengesahan RUU Perampasan Aset.
Babak I: Hadangan Narasi Ferdinand Hutahaean
Sebelum aksi unjuk rasa damai digelar di depan Gedung DPR RI pada Kamis (27/8), politisi asal Sumut, Ferdinand Hutahaean, secara terbuka melontarkan penolakan keras terhadap pergerakan AMPB. Melalui unggahan video, Ferdinand menuding bahwa aksi yang membawa isu RUU Perampasan Aset hanyalah lelucon dan ditunggangi oleh kekuatan politik tertentu dari Solo untuk mengganggu stabilitas pemerintahan Presiden Prabowo.
”Jangan sok jadi pahlawan RUU Perampasan Aset, kami akan lawan upaya kalian yang ingin buat Jakarta chaos. RUU itu sudah dibahas Komisi III dan akan segera disahkan,” demikian ancaman Ferdinand dalam pernyataannya menjelang demo.
Tudingan Ferdinand ini dinilai sebagai upaya pembunuhan karakter terhadap gerakan moral AMPB yang murni menuntut transparansi dan akuntabilitas negara dalam pemberantasan korupsi.
Babak II: Mediasi DPR dan Tudingan “Cair” dari Melva Pardede
Di dalam Kompleks Parlemen, delegasi AMPB berhasil menembus ruang audiensi dan mencapai kemenangan taktis. Pimpinan DPR RI, termasuk Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, menandatangani surat komitmen tertulis untuk menyelesaikan dan mengesahkan RUU Perampasan Aset paling lambat Desember 2026.
Usai kesepakatan tersebut dicapai, Koordinator AMPB, Mas Botok, memutuskan untuk menarik mundur massanya demi alasan keamanan taktis, menyusul adanya indikasi kuat penyusupan provokator di luar pagar.
Namun, ironisnya, pasca-mundurnya massa, situasi di luar justru memanas akibat kemunculan figur asal Sumut lainnya, Melva Maria Rosa Rosa Pardede. Mengenakan atribut lengkap Ojek Online (Ojol), Melva membuat video viral yang menuduh Mas Botok mengkhianati massa serta menerima suap (“cair”) di dalam gedung DPR.
”Saudaraku Pati, kami warga Jakarta merasa dimenaki (diberakin) sama kalian. Betul kalian main pulang saja sesudah dari dalam kalian sudah cair, kalian pulang,” ujar Melva dalam video kontroversialnya yang menyulut emosi publik.
Babak III: Komunitas Ojol Resmi Jabodetabek Mengamuk: “Melva Bukan Mitra Kami!”
Menanggapi pencatutan profesi dan fitnah keji tersebut, Komunitas Ojol Resmi Jabodetabek langsung mengeluarkan siaran pers tandingan untuk membantah klaim Melva Pardede dan membersihkan nama profesi mereka.
Komunitas Ojol menegaskan tiga poin utama:
Klarifikasi Identitas: Melva Pardede sama sekali tidak mewakili suara maupun sikap pengemudi ojek online se-Jabodetabek.
Pencatutan Atribut: Hasil verifikasi siber membuktikan Melva Maria Rosa Pardede bukan merupakan mitra pengemudi ojol resmi atau aktif di aplikasi manapun. Atribut jaket yang dikenakannya murni merupakan modus penyamaran untuk mengelabui publik.
Bantahan Fitnah: Tuduhan terhadap Mas Botok adalah hoaks. Sebaliknya, pengemudi ojol asli di lapangan justru ikut mengawal evakuasi Mas Botok menuju bus rombongan guna melindunginya dari provokator.
Tuntutan Hukum dan Solidaritas
Atas serangkaian tindakan tersebut, Komunitas Ojol Resmi Jabodetabek mendesak Kapolri dan Kapolda Metro Jaya untuk segera menangkap Melva Pardede atas dugaan penyebaran berita bohong (hoaks), ujaran kebencian, dan penghasutan publik yang meresahkan.
Gabungan gerakan sipil, komunitas pengemudi ojol asli, dan aliansi daerah menyatakan tetap solid mengawal janji tertulis DPR RI hingga Desember 2026. Kami meminta aparat penegak hukum menindak tegas oknum-oknum, termasuk Ferdinand Hutahaean dan Melva Pardede, yang mencoba memecah belah gerakan rakyat dengan narasi pesanan.





